Sentimen ‘Safe Haven’ 2026: Mengapa Geopolitik Dunia Membuat Dolar Tak Terbendung?
1/20/2026, 9:33:11 AM
Memasuki pekan ketiga Januari 2026, pasar keuangan global kembali diguncang oleh satu fenomena klasik namun menyakitkan bagi negara berkembang. Nilai tukar Rupiah yang sempat menembus angka psikologis baru telah memicu pertanyaan besar: Mengapa dolar justru semakin kuat saat dunia sedang tidak stabil? Jawabannya terletak pada status Dolar AS sebagai Safe Haven – Pelabuhan aman bagi para pemilik modal di tengah badai ketidakpastian.
1. Ancaman Tarif dan Proteksionisme Trump Pemicu utama kenaikan dolar kali ini adalah kebijakan agresif dari Wangshiton. Presiden Donald Trump kembali mengguncang rantai pasok global dengan mengumumkan rencana tarif masuk sebesar 25% bagi negara – negara yang enggan menggunakan dolar dalam perdagangan internasional. Kebijakan ini memaksa banyak negara dan perusahaan global untuk kembali menumpuk Cadangan dolar mereka. Permintaan yang melonjak secara mendadak inilah yang membuat nilai mata uang lain, termasuk rupiah, tertekan hebat.
2. Ketegangan Geopolitik: Bukan Lagi Sekedar Perang Wilayah Tahun 2026 membawa warna baru dalam ketegangan dunia. Konflik bukan hanya terjadi di Timur Tengah atau Eropa Timur, tetapi meluas ke isu kedaulatan sumber daya, termasuk perdebatan mengenai Greenland dan penguasaan jalur perdagangan kutub utara. Dalam teori ekonomi, setiap kali ada risiko perang atau ketegangan diplomatik antar – negara besar, investor akan melakukan flight to quality. Mereka menjual aset berisiko (seperti saham di pasar berkembang) dan membeli aset yang paling likuid dan aman di dunia: Uang tunai dolar dan Obligasi Pemerintah AS.
3. The Fed yang ‘Terpaksa’ Galak Bank Sentral AS, The Fed, berada di posisi yang sulit. Inflasi yang masih tertahan di angka 3% akibat kenaikan biaya logistik global memaksa mereka mempertahankan suku bunga tinggi. Ketika suku bunga di Amerika Serikat tetap tinggi, uang dari seluruh dunia "pulang kampung" ke Amerika untuk mengejar bunga yang lebih besar, meninggalkan pasar Indonesia yang sedang mencoba pulih.
Dampaknya Bagi Indonesia: Peluang atau Ancaman? Bagi sektor properti dan manufaktur, kenaikan dolar adalah tantangan besar karena harga bahan baku impor akan membengkak. Namun, bagi sektor komoditas yang melakukan ekspor dalam dolar, ini bisa menjadi "durian runtuh".
Kenaikan dolar di awal 2026 bukan sekadar fluktuasi angka, melainkan cerminan dari ketakutan dunia akan ketidakpastian politik. Selama tensi geopolitik belum mereda dan proteksionisme Amerika tetap kencang, dolar kemungkinan besar akan tetap menjadi raja di pasar global.
Untuk mendapatkan informasi mengenai properti yang dijual dan disewa langsung klik https://primeproindonesia.com/properties












